Sabun
dan Dtergen
Sabun adalah garam
logam alkali (biasanya garam natrium) dari asam-asam lemak. Sabun mengandung
terutama garam C16 dan C18 , namun dapat juga mengandung
beberapa karboksilat dengan bobot atom
lebih rendah.
Kemungkinan sabun
ditemukan oleh orang mesir kuno beberapa ribu tahun yang lalu. Pembuatan sabun
oleh suku bangsa-suku bangsa jerman dilaporkan oleh Julius caesar. Teknik
pembuatan sabun dilupakan orang dalam zaman kegelapan (dark ages), namun ditemukan kembali selama renaissance.
Penggunaan sabun mulai meluas pada abad ke-18 .
Dewasa ini sabun dibuat
praktis dengan cara lemak sapi atau lemak lain dipanaskan dengan lindi (natrium
hidroksida) dan karenanya terhidrolisis menjadi gliserol dan garam natrium dari
asam lemak. Dulu digunakan abu kayu (yang mengandung basa seperti kalium
karbonat) sebagai ganti lindi (lye = larutan alkali).

Sekali penyabunan,
lapisan air yang mengandung gliserol dipisahkan dan gliserol dipulihkan dengan
penyulingan. Gliserol digunakan sebagai pelembab dalam tembakau, industri
farmasi dan kosmetik. (sifat melembabkan timbul dari gugus-gugus hidroksil yang
dapat berikatan-hidrogen dengan air dan mencegah penguapan air itu ). Sabunnya
dimurnikan dengan mendidihkannya dalam air bersih untuk membuang lindi yang
berlebih, NaCl, dan gliserol. Zat tambahan ( additive) seperti batu apung, zat
warna dan parfum kemudian ditambahkan. Sabun padat itu lalu dilelehkan dan
dituang ke dalam suatu cetakan.
Suatu molekul sabun
mengandung suatu rantai hidrokarbon panjang plus ujung ion. Bagian hidrokarbon
dari molekul itu bersifat hidrofobik dan larut dalam zat-zat non-polar,
sedangkan ujung ion bersifat hidrofilik dan larut dalam air. Karena adanya
rantai hidrokarbon, sebuah molekul sabun secara keseluruhan tidaklah
benar-benar larut dalam air. Namun sabun mudah tesuspensi dalam air karena membentuk misel ( micelles), yakni
segerombol(50-150) molekul sabun yang
rantai hidrokarbonnya mengelompok dengan ujung-ujung ionnya menghadap ke air.
Kegunaan sabun ialah
kemampuannya mengemulsi kotoran berminyak sehingga dapat dibuang dengan
pembilasan. seperti tetesan-tetesan minyak. Kedua, ujung anion molekul sabun,
yang tertarik pada air, ditolak oleh ujung anion molekul-molekul sabun yang
menyembul dari tetsan minyak lain. Karena tolak-menolak antara tetes-tetes
sabun-minyak, maka minyak itu tidak dapat saling bergabung, tetapi tetaap
tersuspensi.

Sabun termasuk dalam
kelas umum senyawa yang disebut surfaktan( dari kata surface-active agents) ,
yakni senyawa yang dapat menurunkan tegangan permukaan air. Molekul surfaktan
apa saja mengandung suatu ujung hidrofobik ( satu rantai hidrokarbon atau lebih
)

Dan suatu ujung hidrofilik ( biasanya, namun tidah
harus,ionic) . porsi hidrokarbon dari
suatu molekul surfaktan harus mengandung 12 atom karbon atau lebih agar
efektif.
Surfaktan dapat
dikelompokkan sebagai anionic,kationik, atau netral, bergantung pada sifat
dasar gugus hidrofiliknya. Sabun dengan gugus karboksilatnya, adalah surfaktan
anionic, “ benzalkonium” klorida(
N-benzal ammonium kuarterner klorida) yang bersifat anti bakteri adalah
contoh-contoh surfaktan kationik. Surfaktan netral mengandung suatu
gugusnon-ion seperti suatu karbohidrat yang dapat berikatan-hidrogen dengan
air.
Surfaktan menurunkan
tegangan permukaan air dengan mematahkan ikatan-ikatan hydrogen pada permukaan.
Mereka melakukan hal ini dengan menaruh
kepala-kepala hidrofiliknya pada permukaan air dengan ekor-ekor hidrofobiknya
terentang menjauhi permukaan air.
Kekurangan utama dari
sabun adalah bahwa mereka mengendap dalam air sadah ( air yang mengandung Ca2+
, Mg2+ , Fe3+ , dan sebagainya ) dan meninggalkan suatu
residu.
CaCO3(S) + 2 H2O(l) + CO2(g) → Ca(HCO3)2
Setelah perang dunia II
, dikembangkan detergen sintetik. Seperti sabun , detergen adalah surfaktan anionic – garam dari sulfonat atau
sulfat berantai panjang dari natrium (RSO3- Na+
dan ROSO3- Na+ ) . detergen mempunyai
keunggulan dalam hal tidak mengendap bersama ion logam dalam air sadah.
Deterjen dan sabun
digunakan sebagai pembersih karena air murni tidak dapat menghapus atau
menghilangkan kotoran pakaian/barang yang berminyak, atau terkena pengotor
organik lainnya. Pada dasarnya, sabun dan deterjen memungkinkan minyak dan air
untuk bercampur sehingga kotoran berminyak dapat dihilangkan selama pencucian